8 Buku Kumpulan Cerpen Karya Siswa MAN Insan Cendekia Serpong

Berawal dari proyek pembelajaran yang ditugaskan guru Bahasa Indonesia Pak M. Syahril, S.Pd lahirlah sebuah karya antologi cerita pendek (cerpen) yang ditulis siswa kelas XI tahun pelajaran 2016/2017 (angkatan ke-21/Discaria). Dibawah bimbingan Pak Syahril berhasil menuliskan 158 karya cerpen masing-masing siswa menulis satu judul cerpen dan telah dibukukan menjadi 8 buku dengan tema yang berbeda-beda, berikut rincian tiap FRAGMEN:
Fragmen 1 : Efemeral
Fragmen 2 : Yang Tak Terlupa
Fragmen 3 : Remedi
Fragmen 4 : Imaji
Fragmen 5 : Spektrum
Fragmen 6 : Biarkan Hati Bicara
Fragmen 7 : Catatan untuk Hari Esok
Fragmen 8 : Keping Memori

Fragmen 1 : Efemeral

“Bila satu tubuh utuh pohon adalah medan yang pernah kita lalui bersama, maka kau dan aku adalah daun yang berbeda. Kau akan tetap segar menghijau, sementara aku gugur dan layu.

Kita berada dalam ranah yang berbeda, aku sadar itu. Kau mungkin bersinar di atas sana bersama daun-daun hijau lain, sibuk berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Sedangkan di bawah sini, aku akan menemui mereka yang lain, yang sama-sama berjuang untuk mekar. Mungkin bukan mekar seperti bunga, bukan pula diwarnai hijau segar sepertimu. Gugurku ini bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalananku untuk menjadi lebih baik.

Aku akan mekar dengan caraku sendiri, tunggulah. Eksistensiku mungkin bukan di atas sana, bukan bersamamu. Namun, percayalah, aku tidak mati. Aku akan tetap mendoakanmu di sini.”

Fragmen 2 : Yang Tak Terlupa

“Apakah dia tak memahami makna sahabat? Mengapa selalu diriku yang tertimpa masalah? Tidakkah dia peduli terhadap nasibku?” Bertubi-tubi pertanyaan dia lontarkan. Biarlah cintaku ini menuangkan sukma terperihnya. ”Sahabat. Apakah kata dan deklarasi itu penting? Cukuplah kau bermain peran menjadi sahabat. Bukankah peran harus menghayati? Akankah kau akan lupa dengan peran yang kau mainkan?” Air muka cintaku mulai berubah mendengarku membalikkan pertanyaan. “Bahkan hujan pun rela untuk terjatuh. Hujan bersusah payah bangkit lalu pergi ke mega biru untuk mempersiapkan dirinya terjatuh kembali.” Matanya akan kembali bersinar.

Pendidikan tinggi. Simpul kembar yang telah ia temukan dan selama ini dia jaga harus melalui masa terjauhnya. Cintaku akan tetap di ibu pertiwi bersamaku. Namun, tak demikian dengan sahabatnya. “Sungguh diriku sedih beradu bahagia. Apakah yang dapat kuberikan untukmengantarnya, Ayah?” Cintaku tak berubah.

Fragmen 3 : Remedi

Menjadi terluka memang bukan pilihan. Ia adalah bagian dari takdir yang harus kita hadapi mau tidak mau. Menjadi terluka memang menyakitkan. Tak terkira kepedihan yang terasa. Namun, ialah energi yang yang tak terkira besarnya. Luka adalah anugerah Tuhan, karena setiap luka akan menghadiahkan kesembuhan. Setiap luka akan meninggalkan bekas yang tersimpan makna di dalamnya. Makna yang seringkali dipandang sebelah mata seolah tak ada gunanya. Namun, dapatkah terpikir olehmu, luka dapat menyelamatkan seorang insan yang tak berdaya dari kematian yang mengintai?

Fragmen 4 : Imaji

“Aku Ifra, salah satu warga di surga ini, dengan keseharian yang selalu seperti yang aku mau, menikmati semuanya sudah menjadi hal rutin yang mudah didapatkan.“

“Dengan berdiri menggunakan tongkat kayu ulin tua dan menyandang pedang di pinggang serta mengenakan baju besi, aku mulai mengomando seluruh pasukan untuk bersiap mempertahankan kesultanan dari serangan.”

“Oh iya, namaku adalah Yaisa dan tujuan kalian dikumpulkan disini adalah untuk sebuah ‘Penebusan Dosa’. Maaf jika aku terlalu merepotkan kalian tapi sederhananya, lakukan saja apa yang aku perintahkan.”

“Kulihat seekor kelinci putih terkapar, kelinci itu terlihat berpakaian sangat mewah. Kalungya yang berlapis berlian serta mahkota kecil yang ia kenakan terlihat sangat elegan dipadu dengan bulunya yang putih. Tiba-tiba sekelompok orang berbaju besi membawa kelinci itu pergi.”

Fragmen 5 : Spektrum

Inilah bagaiman hidup sesungguhnya. Ada kalanya kita menempuh hari-hari yang damai dan bahagia dengan sejuta keindahan serta kehangatannya yang merasuk dalam diri kita. Hari-hari dimana hidup terasa lebih berwarna untuk disimpan dalam memori kenangan kita.

Namun, ada kalanya hidup itu menempuh masa-masa suram penuh kegelapan dan duka yang menyelimuti kita kemana pun kita pergi.

Inilah spektrum, rentang warna yang teramati ketika cahaya putih terdispersi oleh sebuah prisma. Seperti sebuah lika-liku kehidupan dengan berbagai rupa yang selalu menyertai kita semenjak awal kita hidup di dunia ini.

Fragmen 6 : Biarkan Hati Yang Bicara

Cinta
Satu kata berjuta makna. Satu kata yang mungkin sulit didefinisikan. Jikalau bisa, setiap orang akan memiliki definisi yang berbeda. Tak akan ada seorang pun di dunia ini yang akan sepakat mengenai definisi dari cinta.

Cinta
Satu kata berjuta rasa. Inilah yang dinamakan fitrah manusia. Di mana setiap insan yang pernah mengalaminya, akan memiliki pendapat yang berbeda tentangnya.
Ikhlaskanlah.

Fragmen 7 : Catatan untuk Hari Esok

Akasara. Sebuah aksara dapat mengungkapkan makna lebih banyak daripada ucapan. Sebuah aksara dapat denganmudah tersimpan dalam memori. Berbeda dengan aksara, ucapan lebih mudah hilang bersama angin masa lalu.

Karena itu aku lebih memilih untuk menulis daripada berbicara. Kertas mengerti perasaanku lebih dalam daripada orang lain. Kertas tidak pernah mengejekku cengeng ketika aku menangis. Bahkan kertas selalu bersedia mendengarkan kisah hidupku meski harus mengorbankan dirinya sendiri.

Fragmen 8 : Keping Memori

“Good afternoon passengers. This is your captain speaking. We are currently cruising at an altitude of 38,000 feet on 350 miles per hour. The weather in London is clear and sunny, with 77 degrees fahrenheit of this afternoon. If the weather cooperates, we should get a great view of the city as we descend. The cabin crew will be coming around in about fifteen minutes to offer you a light snack and beverage. Until then, relax and enjoy the rest of the flight.

Suara itu.
Suara yang berasal dari kokpit pesawat mengingatkanku kepada seseorang yang sekarang tidak ku ketahui kabarnya. Mungkin ini hanya kebetulan, namun hal ini membuat pikiranku kembali ke tahu 2012. Tahun dimana aku tidak perlu memikirkan betapa rumitnya membuat janji dengan dosen pembimbing. Seketika otakku memutar kejadian bersama Dhea.

Untuk pembelian buku silakan hubungi kontak yang tertera

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*