Aplikasi Pembelajaran Itu Seru dan Menyenangkan

Sabtu, 3 Maret 2018 siswa kelas X tahun pelajaran 2017/2018 kegiatan Aplikasi Pembelajaran Ekonomi dan Sejarah melakukan kunjungan ke Museum Bank Indonesia, Museum Bahari/Menara Syahbandar dan Museum Fatahillah. Kegiatan ini merupakan hal rutin bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa, pembelajaran di MAN Insan Cendekia Serpong tidak hanya di ruang kelas.

1. Museum Bank Indonesia (BI)

Pukul 07.15 rombongan sudah tiba di museum Bank Indonesia karena sesuai jadwal akan diterima pukul 08.00, museum BI ini termasuk museum favorit yang banyak dikunjungi oleh siswa sekolah dan juga masyarakat umum. Sehingga untuk dapat berkunjung rombongan sekolah harus reservasi terlebih dahulu. Disini siswa secara berkelompok ditugaskan untuk membuat laporan berupa reportase berupa video.

Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum di Jakarta, Indonesia yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota), dengan menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang beraliran neo-klasikal, dipadu dengan pengaruh lokal, dan dibangun pertama kali pada tahun 1828.

Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.

Ruang pamer dalam museum BI memiliki alur yang menceritakan perkembangan sejarah Bank Indonesia.
1. Periode 1, Menuju Negara Modern. Menceritakan keadaan negara yang masih belia, yang baru saja merasakan hawa kemerdekaan. Namun tugas besar Bank Indonesia sebagai pengatur peredaran uang dan perbankan Indonesia telah menanti.

2. Periode 2, Membangun Sikap Kebangsaan. Di masa ini, pembangunan ekonomi negara agak morat-marit akibat politik konfrontasi. Kebutuhan pembiayaan pembangunan sangat besar namun penerimaan sangat terbatas.

3. Periode 3, Ekonomi Sebagai Haluan Negara. Pergantian pemerintahan ke Orde Baru membawa angin segar bagi perekonomian. Berkat cadangan devisa yang meningkat dan Bank Indonesia fokus membangun sektor profuktif untuk mengendalikan inflasi.

4. Periode 4, Globalisasi Ekonomi: Hilangnya Batas Negara. Perekonomian melaju pesat, investasi dan pinjaman luar negeri mengalir, namun tidak diikuti dengan kehati-hatian yang semestinya. Kegemilangan ekonomi ini jatuh dalam sekejap setelah nilai tukar rupiah jatuh.

5. Periode 5, Krisis Segala Lini. Rupiah terpukul setelah krisis nilai tukar baht. Krisis nilai tukar berubah menjadi kirisis perbankan, di mana 16 bank lalu ditutup. Rupiah semakin terpuruk pasca kerusuhan Mei 1998. Pemilu 1999 yang berjalan lancar mampu membawa dampak positif bagi penguatan rupiah.


2. Museum Bahari
Setelah puas berkunjung di museum BI siswa kemudian melanjutkan perjalanan ke museum Bahari yang terletak tidak jauh dari museum BI sekitar 20 menit jika jalan kaki tapi rombongan tetap menggunakan bus mempertimbangkan cuaca sangat terik pada siang itu.

Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang berlokasi di seberang Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada masa pendudukan Belanda bangunan ini dulunya adalah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, seperti rempah-rempah yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat laris di pasaran Eropa. Gedung ini awalnya digunakan untuk menyimpan barang dagangan utama VOC di Nusantara, yaitu rempah, kopi, teh, tembaga, timah, dan tekstil.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976, bangunan cagar budaya ini dipugar kembali, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

Menara Syahbandar (Uitkijk) dibangun sekitar tahun 1839 yang berfungsi sebagai menara pemantau bagi kapal-kapal yang keluar-masuk Kota Batavia lewat jalur laut serta berfungsi kantor “pabean” yakni mengumpulkan pajak atas barang-barang yang dibongkar di pelabuhan Sunda Kelapa.

Menara ini sebenarnya menempati bekas bastion (selekoh) Culemborg yang dibangun sekitar 1645, seiring pembuatan tembok keliling kota di tepi barat. Sebelum dibangun Menara Syahbandar, fungsi menara pemantau sudah dibangun di dekat bastion Culemborg dengan bentuk “tiang menara”, di atasnya terdapat “pos” bagi petugas.

Bertambahnya usia bangunan hingga saat ini kurang lebih 168 tahun, membuat bangunan setinggi 12 meter dengan ukuran 4×8 meter ini, secara perlahan menjadi miring sehingga kerap disebut “Menara Miring”. Posisinya yang persis di sisi jalan raya Pakin, di mana setiap hari padat oleh kendaraan dan tak jarang jenis kendaraan berat seperti truk kontainer, menambah beban getar di sisi selatan menara. Menara ini juga disebut “Menara Goyang” karena menara ini terasa bergoyang ketika mobil melewati sekitarnya.

3. Museum Fatahillah

Ini museum ketiga dan terakhir yang menjadi objek kegiatan Aplikasi Pembelajaran Ekonomi dan Sejarah dibawah bimbingan Pak Erwin Supriatna, S.Pd guru Sejarah Indonesia dan Ibu Sri Hartini, S.Pd guru Ekonomi serta dibantu bpk/ibu guru lain yang turut mendampingi siswa.

Museum Fatahillah memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Museum ini dahulu merupakan balai kota Batavia (bahasa Belanda: Stadhuis van Batavia) yang dibangun pada tahun 1707-1712 atas perintah Gubernur-Jendral Joan van Hoorn. Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Maret 1974, bangunan ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Ruang penjara bawah

Setelah mengitari museum fatahillah yang saat itu hanya bisa mengunjungi lantai bawah saja karena lantai dua sedang ada perbaikan dan pengembangan. Siswa melanjutkan bersepeda, foto-foto sambil menikmati kuliner sekitaran kota tua. Terlihat siswa sangat senang dan ceria mengikuti aplikasi pembelajaran “jalan-jalan sambil belajar dan belajar sambil jalan-jalan”.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*