Away : Saya dan Dormistory

Away Baidhowy guru MAN IC Serpong memberikan resensi buku dormistory yang merupakan kumpulan cerita siswa Insan Cendekia Serpong, berikut ini isi tulisan Ust.Away dalam status facebooknya:

‪#‎Barangsiapa‬ yang ingin beli, silakan akses link http://bit.ly/BeliDormistory

Usai hajatan wisuda MAN Insan Cendekia Serpong angkatan ke-19, Eisthera Gritanefic, Sabtu 21 Mei 2016, saya berkesempatan mengikuti rapat awal persiapan Milad IC ke-20 di bulan September yang akan datang. Hadir dalam pertemuan tersebut perwakilan Pengurus Besar IAIC (Ikatan Alumni Insan Cendekia): Lisyanti, Adam Ardisasmita, Emil Fahmi Yakhya dan Rasyid Muhammad. Sementara, dari kalangan pegawai IC, selain Ibu Kepala Madrasah, Penny-Persahini Sidik, turut hadir jajaran panitia Milad ke-20: Ahmad Imam, Pahrurroji M. Bukhori, dan Nastiti Tigor.

Saat menjelang rapat dimulai, Adam mewakili IAIC –seperti yang disampaikan saat pidato perwakilan atas nama IAIC di rangkaian acara wisuda– menyerahkan sekardus buku istimewa “Dormi[S]tory”. Buku istimewa tersebut dihadiahkan dari alumni yang dermawan dan Tim Blogger IAIC untuk almamater tercinta. [Semoga Allah membalas kebaikan alumni hamba Allah yang baik hati dan para muhsinin dari Tim Blogger IAIC dengan pahala berlipat ganda dan kemurahan dalam menjemput rejeki. Amiin.]

Kira-kira satu jam lebih, forum merencanakan momen Milad. Dan sebelum berpisah dari ruang rapat, saya memanfaatkan momen bertemu salah satu dari para kontributor “Dormi[S]tory” untuk minta tanda tangan. Yang hadir, hanya Adam seorang. Jadi, baru tandatangan Adam saja yang sudah tertera di bagian buku “Dormi[S]tory” saya. Layaknya, sebagai jumpa penulis, kiranya mendapat tanda tangan langsung dari penulisnya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

Buku Istimewa

Saya menyebut buku “Dormi[S]tory” sebagai buku istimewa. Istimewa, karena ia mengetengahkan hal-hal yang istimewa dari para penulis istimewa tentang almamater mereka yang prestisius dan istimewa. Tempat “rendezvous” mereka pun juga istimewa, era dunia maya, di: Blog.

Seperti yang saya baca, antar mereka, ada yang belum saling kenal, belum ketemu muka. Hebatnya, mereka bisa cair. Bisa saling kontribusi. Bisa saling kerjasama memuliakan nama istimewa dan keluarga besar SMU-MAN Insan Cendekia Serpong.

Para kontributor seperti yang bisa ditelisik pada buku “Dormi[S]tory” di setiap penghujung judul, adalah para alumni istimewa dari angkatan per angkatan. Dari angkatan masuk tahun pertama tahun 1996 yang diwakili oleh M. Ari Mukhlason dan Maya Dwilestari, hingga perwakilan alumni yang keluar tahun 2014, yaitu Uyun Charisa Aziza. Secara pribadi, saya cukup mengenal satu demi satu dari 29 para kontributor buku istimewa “Dormi[S]tory”. Juga alumni-alumni lainnya yang telah mengenyam di tempat istimewa Insan Cendekia.

Insan Cendekia: Inside

Saya harus menyebut nama Rofida Lathifah, alumni terbaik IC tahun 2008. Di penghujung tahun 2015, Rofida “nyolek” saya melalui messages di FB. Tersebut dalam dialog di sosmed itu, bahwa dia sedang mencoba mengajak rekan-rekan alumni untuk membuat “sesuatu” bagi almamater tercinta. Saya mencoba respon, “kiranya apa yang bisa saya bantu?”. Rofida menyebut butuh ini butuh itu. Lalu semampu saya, saya suplai data yang saya punya. Berkirim informasi tentang buku “The Magnificence of MAN Insan Cendekia Serpong: Dua Windu dalam Bingkai”. Hingga terakhir, Ibu Dokter Muda ini, membutuhkan alamat lokasi dan web MAN Insan Cendekia di seluruh tanah air Indonesia.

Selain Rofida, saya juga ingin mengapresiasi Nabila As’ad selaku inisiator sekaligus Koordinator Komunitas Blogger IAIC. Di bawah koordinasi Nabila, komunitas yang dibentuk pada bulan Desember 2015, telah menghimpun sebanyak 50 orang sebagai anggotanya. Dari mahasiswa hingga professional. Dari generasi pertama hingga alumni yang baru lulus dari IC.

Sebagai inisiator, pencetus gagasan, koordinator sekaligus penanggung jawab proyek, saya bisa membayangkan kesibukan kedua alumni tersebut. Dari mulai menelisik alumni-alumni pegiat blog, merintis komunitas blogger IAIC, hingga terbitnya buku istimewa “Dormi[S]tory”. Tentu sudah melalui jalan diskusi dan bertukar gagasan yang panjang bersama para pegiat, khususnya dengan Ketua Umum IAIC. Pun demikian, dengan melobi dan merebut hati Mas Hernowo Hasim untuk menjadi editor adalah sebuah upaya yang perlu diapresiasi.

Dengan dibantu rekan-rekan alumni yang secara sukarela “turun gunung” dari penjuru negeri, seperti Yosi Ayu Aulia, Suci Fadhilah, Dafira Nuha, Gilang Andi Pradana, Laksito Hedi dan Nadia Vandari, serta dukungan dana dari BPDA (Badan Pengelola Dana Alumni) IAIC, akhirnya terbitlah buku istimewa yang mengupas Insan Cendekia dari “orang dalem” langsung. “Orang dalem” yang bercerita tentang apa yang mereka rasakan selama tiga tahun di Insan Cendekia. “Orang dalem” yang berbagi berbagai pengalaman yang dilalui di “penjara suci”, seperti disebut oleh Roswitha Muntiyarso, alumni IC tahun 2008, peraih medali perunggu Olimpiade Biologi Internasional di Kanada. “Orang dalem” yang bernarasi langsung tentang berbagai sisi kehidupan di sekolah dan asrama. “Orang dalem” yang “nyampein” langsung apa yang mereka “rasain” selama di “dormitory”.

Ada 33 judul dari 29 penulis yang berasal dari berbagai angkatan. Dari angkatan yang masuk Insan Cendekia tahun 1996 dan keluar lulus tahun 1999, sampai angkatan ke-17 yang masuk ke Insan Cendekia tahun 2011 dan keluar tahun 2014. Dari angkatan kedua “Ma99net” ada 2 penulis. Angkatan kelima “IC517” 1 penulis. Angkatan keenam “Vaterfouzz” ada 2 penulis. Angkatan kedelapan “Felzhiro Nexard” 2 orang. Angkatan kesembilan “d’Loeuf San Sa For Sya” ada 2 orang. Angkatan kesepuluh “Morganaxis” ada 4 penulis. Angkatan kesebelas “Ascarea Costadinova” berjumlah 8 penulis. Angkatan keduabelas “Civeramoz Alxondiscreduso” ada 1 orang. Angkatan ketigabelas “Nozomi Hikari” 1 orang. Angkatan keempatbelas “Axivic Lunarismosinerati” ada 2 orang. Angkatan kelimabelas “Gycentium Credas Disorator” ada 3 penulis. Angkatan keenambelas “Foranza Sillnova” ada 3 penulis, dan angkatan ketujuhbelas “Magnivic Alencearin” ada 1 penulis.

Di kesempatan ini, saya mohon ijin tidak mengulas semua tulisan. Hanya empat judul di awal. Tidak ada maksud lain, kecuali hanya keterbatasan waktu. Semua tulisan sangat impresif, membawa kesan nostalgia yang berbeda-beda dan saling melengkapi dari aneka sisi sudut pandang, khususnya dari dimensi waktu. Kalau dari segi ruang, semua sama, bercerita tentang kampus tercinta yang berada di Jalan Cendekia.

Saya, mungkin juga pembaca lainnya, juga memahami bagaimana para kontributor dalam tulisannya masing-masing mengalami sedikit “kebimbangan” dalam menorehkan tulisan, apakah yang ini perlu ditulis atau tidak, apakah yang itu perlu diungkap atau tidak, dan aneka galau lain yang sejenis.

Suci Fadhilah, misalnya, dalam tulisannya “Insan Cendekia, Mimpi, dan Tujuan Hidup” yang ditempatkan oleh tim editor sebagai judul pertama, (hal. 2-8) bercerita bahwa sejak tahun pertama di IC sudah diarahkan untuk mengetahui kemana ia ingin melanjutkan studi. Dibangunkan kesadarannya bahwa ia bersama teman seangkatannya adalah anak-anak terpilih yang tidak boleh berdiam diri. Terpatri dalam dirinya untuk selalu berani berkompetisi dalam bingkai sebuah slogan “Belajar adalah Ibadah, Prestasi untuk Dakwah”.

Suci juga mendapat pengalaman istimewa dalam pembelajaran Akidah Akhlak pada tugas membuat Peta Hidup, yang mana saya hanya “memasarkan” ide mulia Bunda DR. Marwah Daud Ibrahim. Suci sangat terkesan dengan tugas selembar kertas ukuran A3. “Saya mulai melihat hidup saya sebagai sebuah cerita panjang dengan banyak sekali pencapaian yang ingin dilakukan”, kenang Suci. Menurutnya, bahwa untuk merancang sebuah peta hidup, kita perlu memiliki sebuah ultimate goal atau tujuan hidup yang jelas, baru kemudian memecah-mecahnya ke dalam milestones yang akan dicapai di setiap satuan waktunya”. Lulus dari IC tahun 2011, Suci kuliah di Fakultas Ilmu Komputer UI (Universitas Indonesia).

Pada judul kedua “From a NewspaperAds to Who I am Today” (hal. 9-16) Nabila As’ad bercerita bagaimana Bapaknya begitu menggebu-gebu “mromosiin” sekolah Pak Habibie lewat sebuah potongan iklan koran. Bahkan, Bapaknya sendiri yang “daftarin” dan turut “nganterin” tes masuk IC. Sangat berkesan di pribadi Nabila tentang awal mula kehidupan di IC hingga lulus. Menurutnya, “Pelajaran moral dan nilai luhur yang tanpa saya sadari sangat melekat kepada diri saya. Tidak hanya ketika OSPEK atau pun hidup tiga tahun di IC, yet those moral lessons have shaped me into the way I am now”. Dalam tulisannya, Nabila menyatakan bahwa selama 3 tahun di IC, ada tiga hal yang memberikan impresi lebih untuk dirinya. Antara lain, ‪#‎mengucapkan‬ salam dan tersenyum, ‪#‎menyontek‬ itu aib,‪#‎bersabar‬ dan bersyukur. Lulus dari IC tahun 2007, Nabila kuliah di Teknik Informatika ITB (Institut Teknologi Bandung).

Maya Dwilestari pada judul ketiga “Perjuangan Anak Desa Masuk Kota” (hal. 17-21), bertutur tentang enam puluh siswa siswi dari pelosok daerah memulai petualangan menuntut ilmu di “Magnet School” (nama pertama sebelum berubah menjadi Insan Cendekia). Perjuangan yang bermula dari sebuah wisma di bilangan Ciputat, Kab. Tangerang (kini: Kota Tangerang Selatan). Namanya, Wisma Hikmat.

Betapa ia merasakan kebahagiaan dan sukacita atas limpahan karunia menu sarapan dengan susu hangat. Diberi kesempatan jalan-jalan ke tempat paling fenomenal di Indonesia (pada zamannya): Kebun Raya Bogor dan Taman Mini Indonesia Indah. Pada sisi lain, ia juga merasakan kesedihan dan dukacita atas raihan nilai minus dan harus ikut remedial di malam Ahad. Menjadi angkatan pertama yang langsung memiliki kakak dan adik kelas, menurut Maya, membentuk budaya khas tersendiri di IC. Mereka saling dekat satu sama lain. Bagaimana tidak, mulai makan, minum, mengganti sprei hingga memakai seragam, selimut lurik putih coklat, kaos kaki, sepatu, bahkan pasta gigi, semuanya seragam. Ya, mereka mendapat jatah kebutuhan tersebut semua. Masih berkesan di benak Maya, bahwa para guru rela ditodong acara makan-makan berkedok buka puasa bersama di rumah mereka, walaupun acara tersebut berlangsung mendadak. “Harta paling berharga di IC adalah para gurunya. Tak heran, bila para alumni sampai sekarang demikian hormat kepada para guru. IC bagi kami adalah rumah. Para guru adalah orang tua”, demikian tuturnya.

Dalam tulisannya, Maya yang melanjutkan studi di jurusan Ilmu Komunikasi UI, mencoba bernostalgia dengan “Koperasi Kejujuran” (istilah yang belakangan diadopsi oleh beberapa sekolah) saat ia mengeyam pendidikan dari tahun 1996 hingga 1999.

“Atas dasar merasa kasihan pada anak murid pula, para guru mencoba membuka koperasi. Karena tidak ada petugas khusus yang menjaga koperasi, (living room lantai 1 gedung G, sekarang: ruang WKM Asrama, yang dijadikan) warung/toko dibiarkan begitu saja. Sekali lagi, tanpa ada yang jaga toko. Siswa yang akan membeli, mengambil sendiri, membayar, (taruh uang di kotak), dan mengambil sendiri kembaliannya. Bagi yang kiriman uangnya belum sampai atau sudah habis di tengah bulan, dapat mencatat transaksinya terlebih dahulu di buku utang. “Bonusnya”, nama yang bersangkutan akan terpampang di dinding koperasi di akhir bulan.”

Tulisan keempat dengan judul “Mendaki ‘The Hillary Step’ di Insan Cendekia” karya Urfa Qurrota ‘Ainy, masuk IC tahun 2008 keluar tahun 2011, sangat pas buat calon siswa atau siswa baru yang akan mengarungi “samudera” Insan Cendekia. Cocok juga untuk dibaca oleh adik-adik kelas yang sedang “stress” atau “mabok laut” di tengah “samudera”. Saya jadi teringat mutiara hikmah dari almarhum Pak Zulhiswan, guru senior matematika. Beliau pernah berucap, “Pelaut yang tangguh adalah yang terlahir dari dahsyatnya ombak lautan. Bukan dari lautan yang tenang”. Kiranya, Urfa telah menjadi sosok “pelaut yang tangguh”.

Berbeda dengan para kontributor lainnya, tulisan Urfa sangat menarik dengan mengangkat tokoh pendaki Puncak Everest setinggi 8.848 meter, Sir Edmund Hillary, yang kelak akan menjadi “pemecut diri” Urfa untuk terus berjuang, berjuang, dan berjuang hingga ke “titik pendakian”: lulus sebagai alumni IC. Pecutan yang melekat pada Urfa bahwa Hillary mendobrak ketidakkemungkinan dan membuktikan bahwa manusia bisa mencapai keberhasilan meski terlihat mustahil. Selama ia bisa menaklukkan rasa takut dalam dirinya, ia pun akan mampu menaklukkan tantangan seberat apa pun.

Ada yang menggelitik di hati saya saat membaca kegalauan Urfa, yaitu penggunaan kosakata atau mufrodat atau istilah-istilah perasaan galau yang membuat saya senyum-senyum sendiri, seperti pada hal-hal berikut:

“IC benar-benar rimba. Walaupun sebelumnya saya bersekolah di SMP berasrama, kehidupan di IC sangat berbeda. Perbedaan yang paling terlihat adalah besarnya tuntutan akademik dari sekolah. Tentang soal ujian yang super sulit, nilai rapor yang “begitu deh”, rangking yang tak lagi jadi sorotan. Bayangkan, kamu berada di sebuah sekolah yang isinya anak-anak cerdas dari Sabang sampai Merauke dan kamu harus bertemu 24 jam dengan mereka! Minder. Hari pertama sekolah, saya sukses menjadi patung Liberty selama jam pelajaran. Entah angin apa yang membisiki para guru sehingga mereka memasukkan saya ke kelas bilingual, X-3, dan menggabungkan saya bersama 23 orang super duper cerdas sekali. Ahli Biologi dari Purwokerto, ahli Matemtika dari Jawa Timur, si cantik jago berbahasa Inggris dari Depok, si cantik lainnya yang jago Matematika, Fisika, Kimia, sekaligus jago mengaji dan hafal beberapa juz al-Quran, dan 19 orang lainnya yang bikin saya merasa jadi serpihan kayu yang kehujanan lalu terinjak-injak. Ia merasa frustasi. Melayang di udara seperti balon gas yang dilepaskan begitu saja. Tak bisa mengendalikan arah, hanya bergantung pada angina yang membawanya. Ia merasa takut. Takut mendapat nilai jelek di rapor. Takut kehilangan gelar juara yang biasa diperoleh pada saat SD sampai SMP. Takut tidak bisa mengerjakan soal-soal ujian. Takut dianggap bodoh oleh teman-teman. Takut mengalami kegagalan.”

Di akhir tulisannya, Urfa memberi makna tentang prestasi. Kata Urfa, “Berprestasi tidak selalu harus menjadi juara dalam olimpiade. Prestasi bisa diraih lewat jalur yang beragam. Kamu hebat di organisasi, itu adalah prestasi. Kamu hebat mempersuasi teman-teman supaya istiqamah dalam kebaikan, itu adalah prestasi juga. Parameter prestasi hanya satu: kebermanfaatan terhadap sesama”. Lulus dari IC tahun 2011, Urfa melanjutkan studi ke Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran.

***
Untuk cetakan berikutnya, kiranya perlu dihadirkan kontributor dari perwakilan semua angkatan. Paling tidak, satu angkatan ada satu wakil alumni.

Sepengetahuan saya, yang belum “turun gunung” adalah wakil angkatan pertama tahun 1996-1999 (The First), angkatan ketiga tahun 1997-2000 (Circa), angkatan keempat tahun 1998-2001 (LQ Generation), angkatan ketujuh tahun 2001-2004 (Maltavista), dan angkatan delapan belas tahun tahun 2012-2015 (Astonic), serta angkatan sembilan belas yang baru lulus tahun 2016 (Eisthera), yang mana buku istimewa ini baru dicetak menjelang dan menyambut kelulusan mereka.

Di penghujung tulisan ini, saya ingin mengutip kembali atensi dan support yang disampaikan oleh Ir. H. Nur Mahmudi Ismail, M.Sc., Ph.D., orang tua alumni IC Ahmad Syihan dan Faathimah Nur (Alhamdulillah pernah kedatangan beliau di ruang kelas X.5 saat mengambil rapor Faathimah). Dalam mengapresiasi buku istimewa “Dormi[S]tory” beliau berkomentar dan berpesan, “Dalam buku ini, para alumni telah dan sedang menunjukkan bibitnya dalam pemahaman komitmen, pengembangan serta pendalaman ilmu-ilmu tersebut. Selamat berjuang wahai para alumni. Kembangkan sayapmu ke seluruh penjuru dunia. Perkokoh tekad untuk mendalami prinsip-prinsip ajaran Islam serta berbagai bidang ilmu pengetahuan”.

Terima kasih pada para kontributor “Dormi[S]tory” mewakili seribuan alumni yang telah bercerita rasa “manis asam asin” tentang almamater tercinta di Jalan Cendekia. Antum telah menjadi saksi tentang arti penting menuntut ilmu, aktif dalam organisasi dan pembiasaan diri berakhlak mulia. Kelak, di era satu abad RI 2045, Antum akan berkibar menghias indah negeri ini, dan berkiprah dalam pembangunan Indonesia. –Wallahu a’lam bissowab–

‪#‎MargoCity‬, 3 Juni 2016

Sumber: FB Away Akramann

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*