Bahrul Hayat Ph.D: Ciri Guru Profesional dan Inspiratif

Bahrul Hayat, Ph.D
Bahrul Hayat, Ph.D

Bahrul Hayat Ph.D. sekjen Kementerian Agama RI periode 2006-2014 memberikan materi kepada guru dan tenaga kependidikan di MAN Insan Cendekia Serpong dalam rangkaian kegiatan Milad MAN Insan Cendekia ke-20. Sesuai tema “Menjadi Guru Profesional dan Inspiratif” beliau menyampaikan materi dengan sangat menarik, menggugah dan inspiratif, berikut poin-poin penting materinya:

1. Self-regulation
Guru yang memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri, menjadikan aturan sebagai kebutuhan mereka untuk bekerja sebagai seorang professional. Mereka tahu apa yang harus dan baik dilakukan dan apa yang tidak boleh dan tidak baik dilakukan. Aturan dijadikan instrumen untuk mendorong pemahaman bahwa sebagai seorang profesional guru punya hak dan kewajiban.

2. Self-supervision
Guru yang memiliki kemampuan untuk mengawasi dirinya sendiri dan membiasakan untuk bekerja tanpa supervisi arau pengawasan orang lain dengan membuat target kinerja yang jelas. Memiliki kemandirian dan bertanggung jawab terhadap kinerjanya dengan segala resiko yang akan dipikulnya. Membiasakan diri untuk memiliki sikap self-awareness dan tidak takut untuk mengakui kesalahan dan meminta bantuan pada atasan atau sesama.

3.Self-certification
Guru yang memiliki pemahaman bahwa sertifikat profesi pendidik adalah lembar formal yang tidak berarti apa-apa apabila mereka tidak menunujukkan kemampuan profesionalnya. Mereka selalu menunjukkan kinerja terbaiknya dan mereka sendirilah yang mensertifikasi hasil pekerjaannya. Do the best. Mereka membiasakan untuk melakukan self-evaluation dan refleksi untuk memahami kekurangan dirinya dalam menjalankan tugas profesionalnya.

4. Self-development
Guru yang menyadari bahwa guru sejatinya adalah pembelajar sepanjang hayat. Sebagai manusia pembelajar dia memiliki dorongan dan upaya untuk terus menerus belajar dalam rangka meningkatkan profesionalitasnya. Mereka membiasakan diri untuk peer-learning, knowledge-sharing, dan team working. Mereka selalu menggunakan berbagai fasilitas dan sarana sumber belajar untuk mengakses berbagi pengetahuan yang relevan dengan tugasnya. Mereka menjadikan pelatihan sebagai kebutuhan dirinya, bukan suatu tugas atau keharusan dari pihak lain .

5.Life-long service
Guru yang menyadari bahwa tugas mendidik adalah pengabdiannya sepanjang hayat dan tidak dibatasi oleh usia tertentu. Mereka telah mewakafkan dirinya sebagai pengabdi kemanusian di manapun mereka berada demi masa depan dan kesejahteraan umat manusia. Mereka telah menjadikan pendidikan sebagai ladang beramal yang mereka yakini sebagai tugas mulia bagi orang yang Tuhan muliakan.

6.Uswatun Hasanah
Guru yang menyadari bahwa tugasnya sebagai pendidik tidaklah cukup hanya dengan melaksanakan tugas mengajar, tetapi juga memberikan contoh keteladanan (role model) bagi muridnya. Mereka menyadari keterbatasan dirinya bahwa mereka bukan manusia sempurna tetapi selalu berusaha memberi nilai-nilai edukatif dalam interaksinya dengan murid. Mereka menjadi penyebar nilai kebaikan dan perisai bagi hal hal yang tidak baik.

7.Integrity
Guru yang selalu menjaga integritas dirinya baik di lingkungan sekolah/madrasah maupun di masyarakat. Guru yang selalu “mengatakan apa yang dikerjakan dan mengerjakan apa yang diucapkannya”. Guru yang selalu menjaga tindakannya dengan kebaikan hatinya dan kebenaran fikirannya. Mereka berani menyampaikan koreksi dan saran atas tindakan atau perbuatan yang tidak baik secara santun kepada lingkungannya.

8.Positive expectation
Guru yang selalu memberi harapan positif (tamanna) pada muridnya dan meyakinkan muridnya bahwa mereka mampu berprestasi sesuai dengan kemampuannya. Achieve the unachievable, mereka meyakini bahwa guru memiliki nubuat (self-fulfilling prophecy) yang kata dan tindakannya akan mempengaruhi masa depan muridnya. Selalu menyampaikan harapan yang baik dan tidak menyampaikan harapan yang negatif kepada muridnya.

9. Be a councellor
Guru yang selalu hadir bagi murid dan menjadi tempat mengadu manakala mereka mengalami kesulitan dalam belajar atau masalah lainnya dengan memberikan bimbingan dan arahan. Guru yang selalu menunjukkan kepeduliannya (caring) kepada murid dan memahami kekuatan sekaligus kekurangan dan kelemahan mereka.

10. Teaching with the heart
Guru yang selalu menunjukan keikhlasannya dalam mendidik dan melayani murid dan murid merasakan ketulusannya. Guru yang mengajar dan “mendidik dengan hatinya”. Murid menangkap pancaran ketulusan gurunya dan melihat kebahagiaan di raut wajah gurunya saat mereka berinteraksi di kelas dan di luar kelas. Something from heart will go to the heart.

Bahrul Hayat Ph.D bersama guru MAN Insan Cendekia
Bahrul Hayat Ph.D bersama guru MAN Insan Cendekia

Berikut Profil Lengkapnya

bahrul-hayat-phdNAMA : Bahrul Hayat, Ph.D
TEMPAT/TGL. LAHIR : Tasikmalaya, 30 April 1959

PEKERJAAN

1. Dosen Fakultas Psikologi UIN Jakarta, UNJ, dan Universitas Indonesia
2. Tim Ahli Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP),

PENDIDIKAN

1. Doctor of Philosophy (Ph.D.), 1992, University of Chicago, Amerika Serikat, Spesialisasi: psikometrik
2. Master of Arts (M.A.), 1989, University of Pittsburgh, Amerika Serikat, Spesialisasi: psikometrik
3. Sarjana (Drs.), 1984, IKIP Bandung, Jurusan: Pendidikan Bahasa Inggris
4. Akta IV, 1984, IKIP Bandung, Jurusan: Pendidikan Bahasa Inggris

PENGALAMAN JABATAN STRUKTURAL

1. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI
2. Sekretaris Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas
3. Juru Bicara Departemen Pendidikan Nasional
4. Sekretaris Badan Akreditasi Sekolah Nasional (BASNAS), Depdiknas
5. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Balitbang, Depdiknas

JABATAN ORGANISASI PROFESI

1. Ketua Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI)
2. Member, Indonesia-US Council on Religion and Pluralism
3. Dewan Pakar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
4. Pembina Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*