Cerita Full Day School di Insan Cendekia Serpong

Ged. Adm MAN Insan Cendekia Serpong
Ged. Adm MAN Insan Cendekia Serpong

Cerita di Insan Cendekia Serpong yang ditulis oleh RK Aditya melalui status facebook menanggapi isu yang sedang ramai dibicarakan yaitu ide full day School yang dilontarkan oleh Mendikbud Muhajir membuat banyak masyarakat menulis opininya di status facebook, baik yang mendukung maupun kontra tentang ide full day school, salah satunya dilontarkan dalam status facebook RK Aditya alumni Insan Cendekia Serpong angkatan ke-3 yang saat ini peneliti di King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), Arab Saudi dan berencana akhir tahun ini (2016) akan kembali ke tanah air untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan tekonologi di Indonesia khususnya bidang oceanografi.

Berikut Cerita di Insan Cendekia Serpong yang ditulis RK Aditya dalam status facebooknya:

RK Aditya
RK Aditya

1997, Ketika itu 4 bulan setelah euforia masuk korp putih-abu dan tinggal jauh dari orang tua saya mendapatkan hasil ulangan pertama saya. Ulangan pertama langsung dari sektor kelas berat, yaitu fisika. Ketika tes berlangsung, saya tahu saya tidak bisa mengerjakannya tapi saya enggak peduli karena saya tahu teman2 lain juga tidak mudah mengerti apa yg diajarkan guru fisika ketika itu.

Begitu lembaran hasil ujian dibagikan alangkah shock-nya saya karena nilai ulangan saya hanya 21 dari total 100! Saya sedikit terhibur karena melihat teman-teman lain yang mayoritas mendapatkan nilai 40-60. Kejadian itu berlangsung hingga 4-5 lembar terakhir sisa hasil ujian. Tidak ada angka diatas 60 diumumkan oleh Ibu guru kami namun di 4-5 lembar terakhir nilai melompat hingga deretan 85-95, diwilayah yang awalnya tidak saya pernah duga. Ke-4/5 orang ini sepertinya keturunan Einstein. Hancur harga diri saya yang ketika SMP hampir tidak pernah mendapatkan nilai fisika dibawah 80. Saya tahu ada yang special dalam ulangan pertama, yaitu pengkastaan murid pintar-biasa-bodoh. Yang tersedih adalah mengetahui bahwa saya adalah yang terbodoh.

Ketika adzan dzuhur berkomandang, teman-teman satu persatu menyelesaikan wudhu untuk segera sholat. Sementara saya membasuh muka dengan air mata saya. Saya rasa itu air mata terbanyak yang saya keluarkan, selain air mata karena putus cinta. Maklum waktu SMP tiap 3 bulan ganti pacar (diputusin deng). Dikucuran air keran wudhu, saya merasa bodoh seperti tidak berguna. Disaat itu saya baru merasa ada yang special dengan sekolah ini, Insan Cendekia Serpong. Dengan teman-teman yg 90% berasal dari kampung serta pelosok, yang mungkin baru pertama kali ngeliat Jakarta ketika SMA, saya tahu saya harus berjuang keras disekolah ini, saya tahu langganan rangking 3 keatas di SMP bogor tidak jaminan untuk berleha-leha disini.

Setelah 3 tahun berlalu, tetesan ‘darah’ perjuangan di SMA Insan Cendekia Serpong ternyata membuat kuliah di ITB yg 3-6 jam-an perhari serasa nikmat, mungkin bisa dibilang relatif santai. Yah saya tidak salah ngomong – di ITB saya santai- karena bangun tengah malam untuk belajar sudah dimulai dari SMA ketika temen-temen seumuran senang gaul tengah malam. Setiap kali menemukan soal fisika dan kalkulus yang terlihat susah, setiap kali itu juga saya maju kedepan kelas untuk menyelesaikannya. Walaupun tetap belajar banting tulang karena volume otak saya terbatas tapi tidak berdarah-darah seperti ketika di SMA. Alhamdulillah, kuliah bisa diselesaikan dengan baik dan malah dipagi hari sebelum sidang S1 dengan kombinasi dosen penguji ter-killer saya menghabiskan waktu untuk jogging di Sabuga. Dan tiga hari sebelum sidang, saya malah sibuk nge-mall dan ke outlet mencari baju untuk sidang dari sisa 55rb uang simpanan saya. Diakhir perjuangan S1, saya menyadari bahwa; ternyata misi saya ketika kuliah bukan menjadi no. 1 tapi bagaimana menghayati bidang keahlian saya, oceanography. Dan pada akhirnya saya sangat mencintai bidang keahlian saya, lebih dari sekedar nilai”.

Mencoba melihat kebelakang bagi saya ngerasain sekolah Full Day school beneran yang belajarnya dari subuh sampe Isya sewaktu SMA banyak menolong perjalanan keilmuan saya. ITB dan Tokyo Tech S2-S3 (ITB-nya Jepang) dilahap dgn predikat cum laude. Bersyukur dengan semua tempaan yang didapatkan di SMA. Jadi, untuk teman-teman yang keberatan dengan ide Full Day school, mohon ditempatkan dengan wajar dan proporsional. Selalu ada sisi negative-positive. Contoh sisi negative sekolah di Insan Cendekia adalah saya melewatkan konser Bon Jovi dan diselingkuhi pacar di Bogor yang pacaran ama tetangga depan yang suka ngeliat kita pacaran :p; hehehe becanda. Yang paling kentara dari sekolah Full Day diangkatan saya adalah ada sisi kreatif dan pergaulan heterogen yangg hilang. Namun semuanya terbayarkan dengan mendapatkan saudara yang siap membantu belajar disaat lampu mati, yang mengenalkan arti kiriman wesel, yang mengenalkan kiriman makanan asli padang, yang mengajarkan masak indomie dari air panas dan buat roti bakar dari setrika, yang makan diatas koran bercampur tetesan keringat, dll. Dan…dan…yah tau lah, Ibu-nya anak2 juga dari IC smile emoticon:) . Nikmat manakah yang kau dustakan?

Cheers,
-r/K-
*yggagalmasukMekkahbesok*

Sumber :facebook.com/rk.aditya

Begitulah cerita di Insan Cendekia Serpong yang ditulis secara ringan namun inspiratif dan memotivasi untuk tidak mudah menyerah dalam belajar dan RK Aditya telah membuktikan kesungguhan dan kegigihan selama di Insan Cendekia Serpong telah membawanya sukses. Cerita alumni insan cendekia yang serupa juga dapat dibaca dalam Buku Dormistory .

Beriku ini profil singkat RK Aditya

Bidang penelitian:
Pengembangan akurasi pemodelan sirkulasi arus di Red Sea
Pengaruh Red sea terhadap iklim Asia dan perairan regional/global serta dampaknya terhadap ekosistem laut.

Pengalaman riset:
Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), 2008 – 2011
Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), Postdoctoral Fellow, 2011 – 2013

Pendidikan:
Dr.Eng, Mechanical and Environmental Informatics, Tokyo Institute of Technology, 2008 – 2011
M.Eng, Mechanical and Environmental Informatics, Tokyo Institute of Technology, 2006 – 2008
S.Si., Oseanografi, Institut Teknologi Bandung (cum laude), 2000 – 2004

Personal homepage:
http://kartadikaria..com/

9 Comments

  1. Allahu Akbar… pagi” jd ikut meneteskan airmata sedih kemudian lanjut jd bahagia membaca ceita dan kisah.. Bang RK Aditya.. Barrakallah….

  2. Subhanallah..jd sgt terharu apalagi saat ini putra tercinta jg sdg berjihad di IC…yaa full day n night school…Allahu Akbar

    • Itu kan sma…bagaimana dgn anak2x sd…apalagi sarana dan prasarana kurang mendukung…sebaiknya buat kelas sample dulu …terutama di kota besar kalo di desa full day kasihan ortunya…

  3. Subhanallah….. Sukses selalu nak. Smg putri sy yg juga di IC akan menjdi yg terbaik spt kakak kelasnya yg sdh berhasil, jg ponakan yg br lulus mo brgkt ke Mekah,.. Keren

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*