Home Stay “Menyatu Dengan Masyarakat dan Alam Pedesaan”

Home Stay merupakan salah satu kegiatan siswa kelas XI menginap di rumah penduduk merasakan dan menjalani kehidupan masyarakat desa. Kegiatan ini bertujuan mendidik dan mengenal bagaimana kehidupan di desa agar mereka kelak tidak melupakan desa sebagai penyokong kehidupan orang kota serta mengembangkan kecerdasan sosial yang tidak didapat di kelas. Berikut ini tulisan Satrio Alif Febriyanto Divisi Jurnalistik OS Cendekia:

Mentari nampak masih setengah hati untuk menampakan diri. Kokok ayam beriringan embekan kambing saling bersahutan fajar ini. Selasar rumah singgah tak menampakan tanda kehidupan. Entahlah, mungkin banyak diantaranya yang masih lelap tertidur setelah mendirikan salat shubuh atau sedang berkemas guna mempersiapkan kepulangan hari ini. Jalan pun tampak lengang, hanya terdapat beberapa sepeda motor lalu lalang menuju ladang. Sayup – sayup bunyi di dapur berkembang menandakan sarapan pagi tengah dipersiapkan.

Tepat pukul 7 pagi, saya mencoba menyusuri satu per satu rumah induk semang seraya mengintip apa yang sedang dilakukan. Nampak beragam aktivitas dihelat, mulai dari berkemas hingga memasak untuk sarapan pagi dilakukan dengan penuh kebahagiaan dan gelak tawa. Beruntung, ketika saya hendak jalan pagi menyusuri kawasan ini beberapa teman saya hendak melakukan kegiatan yang sama. Destinasi yang dituju kali ini adalah sungai yang terletak di bawah kawasan ini. Kala rekan sejawat saya bermandi ria seraya menikmati panorama dan segarnya aliran air dalam balutan suhu yang sejuk ini, saya sempatkan diri untuk mengkhatamkan suatu notulensi kegiatan kali ini dengan tajuk risalah untuk esok.

Mentari masih bersemayam di keharibaannya sedangkan purnama masih memancar dengan gencarnya kala keberangkatan dilangsungkan. Kebanyakan siswa sengaja enggan melepas lelap di bilik asrama sebelumnya agar dapat terlelap dengan mantap saat perjalanan berlangsung. Perjalanan kali ini dihelat menggunakan bus sebagai moda transportasi penunjang kegiatan. Bus yang memperjalankan kami singgah sejenak di KM. 19 Tol Jakarta – Cikampek untuk memberikan diri kesempatan mendirikan salat subuh. Setelah itu, perjalanan disambung kembali. Sekitar pukul 10 pagi, perjalanan telah khatam. Bus telah mencapai Kantor Desa Pasanggrahan, Kecamatan Bojong, Purwakarta. Namun, sebenarnya perjalanan belumlah khatam sebab perjalanan harus disambung dengan berjalan kaki menyusuri kawasan tersebut sekitar 15 menit.

Perjalanan menyusuri naik – turunnya relief permukaan bumi ini sangat mengasyikan. Hal ini dikarenakan gelak tawa dan keceriaan yang terpancar selama proses perjalanan tersebut. Kegiatan home stay ini diadakan pada 5 – 7 April 2018. Kami disambut oleh Ketua Badan Musyawarah Desa di lapangan utama desa. Dalam sambutannya, beliau mengatakan kegiatan homestay ini menguji sekaligus mengembangkan kecerdasan sosial dan spiritual yang tak didapatkan secara formal melalui kelas.

Kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dengan induk semang tiap – tiap kelompok. Tercatat, terdapat 24 kelompok dengan rincian 12 kelompok laki – laki dan 12 kelompok perempuan. Mulai dari bercakap singkat hingga penempatan kamar dilakukan pada sesi ini. Kemudian, disambung dengan mendirikan salat zuhur berjamaah di masjid desa. Santap siang dilaksanakan seusai pendirian salat zuhur berjamaah. Lauk – pauk yang disediakan sangatlah lezat yaitu perpaduan antara ayam goreng kampung dan tempe serta dilumuri oleh sayur asem. Sangatlah nikmat, coba bayangkan.
Kemudian, siswa diajak untuk memahami budaya tani yang ada di desa tersebut melalui kegiatan tetunggukan dan menanam padi di sawah. Kegiatan tracking menanti untuk ditaklukan setelah rampungnya kegiatan sebelumnya. Tracking kali ini sangat mengasyikan karena medannya yang beragam rupa dan sempit sehingga menantang adrenalin dan keberanian siswa untuk melewatinya. Bahkan, tak jarang siswa berulang kali terjatuh ataupun terpeleset menghadapi medan yang curam dan licin ini.

Destinasi tracking kali ini bermuara pada aliran sungai yang berada di bawah desa. Sungai itu sangatlah jernih dan deras alirannya. Hal ini sangatlah lumrah karena letak geografisnya yang terletak di dekat gunung. Baik siswa laki – laki maupun perempuan, semua menikmati segarnya aliran air yang dibalut sejuknya cuaca. Tentu saja, momen langka seperti ini banyak didokumentasikan sebagai prasasti penanda momen. Bahkan, pada homestay kali ini terdapat siswa yang tadinya kurang menyukai foto bersama menjadi sangat gemar foto bersama. Maklum, hanya sekali saja kegiatan ini diadakan selama bersekolah.

Lelah dan capek begitu terasa saat selesai sesi tracking. Peserta kegiatan pun kebanyakan langsung menuju rumah induk semang masing – masing seraya merebahkan diri guna istirahat sejenak. Meskipun, masih ada saja siswa yang berjajan ria terlebih dahulu. Suhu yang lebih dingin membuat keinginan mengkonsumsi makanan berlipat memang.

Kegiatan sore dan malam pertama dipusatkan pada rumah induk semang masing – masing. Kegiatan difokuskan pada ramah tamah dengan induk semang. Induk semang yang disinggahi berasal dari beragam latar belakang. Mulai dari petani, pembuat gula aren, hingga pedagang semuanya tersedia komplit di desa ini. Pembagian induk semang yang beragam tentu dilandasi suatu upaya memperkenalkan siswa dengan setiap sendi kehidupan masyarakat desa yang saling membantu guna menghadirkan ketenteraman di desa.

Keesokan paginya, kami disambut hujan rintik saat subuh menghampiri. Kegiatan senam yang diagendakan molor pelaksanaannya karena sulitnya mobilisasi. Bekerja bersama induk semang merupakan kegiatan hari kedua yang paling dinanti. Pada kegiatan ini, siswa bekerja bersama induk semang yang disinggahinya dalam melakukan rutinitas pekerjaan sehari – hari. Kegiatan ini berlangsung sekitar 3 jam. Setelah itu, empang sudah menanti kehadiran siswa untuk disinggahi dan dijadikan tempat bermain ria dalam menangkap ikan mas yang nantinya akan disantap setiap siswa. Rasa – rasanya menangkap ikan bukanlah perkara yang begitu sulit bagi siswa MAN Insan Cendekia Serpong. Setelah puas berkotor ria, siswa kembali menghampiri aliran sungai untuk bilas sekaligus membersihkan diri. persiapan salat jumat digelar dengan tergesa – gesa. Wajar, karena setengah jam menjelang azan banyak siswa yang belum sempat membersihkan diri karena mengantre.
Pelaksanaan salat jumat di masjid Desa Pasanggrahan sedikit berbeda dengan rutinitas yang biasa dilakukan para siswa sehari – harinya. Hanya terdapat sekali azan dan menunaikan rukun – rukun khutbah saja yang dilanjutkan dengan salat jumat berjamaah 2 rakaat. Jika ditotal mungkin hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Hal ini jelas kontras dengan salat jumat yang biasanya dijalankan siswa yang menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Hal ini tentu bukan menjadi soal karena pengerjaan tersebut dapat dibenarkan selama tidak bertentangan dengan hukum – hukum dasar. Hakikatnya, perbedaan hadir sebagai ujung tombak narasi pemersatuan manusia dalam mengelola keanekaragaman.

Kegiatan berikutnya ialah ragam pengabdian masyarakat. Beragam kegiatan dihelat, mulai dari bakti sosial hingga penyuluhan mengenai kebersihan gigi dipersembahkan serta tak lupa agenda pembersihan masjid diadakan. Bakti sosial diadakan dengan sasaran 50 kepala keluarga dalam bentuk bantuan sembako. Sesi foto bersama diadakan setelah rampungnya kegiatan. Siswa dan guru pendamping berfoto ria hingga azan asar berkumandang.

Siswa diberikan kebebasan dalam melaksanakan kegiatan pada senja kali ini. Setiap siswa menyibukkan dirinya masing – masing dengan beragam kegiatan dan kisah. Mulai dari bermain sepak bola jalanan, voli, hingga berpelesir sekaligus berswafoto di sekitar desa. Aktivitas senja ditutup dengan pemberian sekantung bantuan yang ditujukan kepada para induk semang.
Kegiatan angkatan dihelat setelah isya. Kegiatan ini dilaksanakan berbarengan dengan penutupan secara resmi kegiatan homestay bersama kepala desa. Beliau berpesan agar ilmu yang didapat dan digali selama kegiatan homestay dapat diambil hikmahnya dan dijadikan bahan pembelajaran sepanjang hayat. Beliau juga meminta maaf atas segala kesalahan dan kekurangan dalam pelayanan yang diberikan desa.

Kegiatan angkatan kali ini ialah penulisan sisi positif dan negatif keluarga angkatan Elcasa Hellastander Viscademour dalam secarik kertas yang terbagi menjadi dua yaitu positif di sisi depan dan negatif di sisi belakang. Seraya diiringi tampilan foto selama 2 hari kegiatan serta pemutaran musik, siswa sangat menikmati kegiatan ini dalam rangka mengkoreksi dan mengingatkan keluarga seangkatannya dalam melaksanakan kebajikan dan menghindari kemungkaran. Sesi ini diakhiri dengan sepatah dua patah kata oleh Wakil Kepala Madrasah bidang kesiswaan, Away Baidhowy, MA. Dalam kalamnya, beliau menekankan pentingnya kejujuran dan kebersamaan. Salah satu ungkapannya yang penulis kenang ialah jadi siswa yang enak, tapi jangan seenaknya dan jadi alumni yang enak, tapi jangan seenaknya. Ungkapan ini bermakna bahwasanya hendaknya kehidupan ini kita nikmati perjalanannya dengan memperhatikan kondisi sekitar sekaligus jangan sesukanya dalam bertindak. Setelah kegiatan rampung, siswa dipersilahkan untuk kembali ke rumah induk semang masing – masing seraya menyeruput hidangan malam yang hangat seperti teh, kopi, dan bajigur.

Beragam pengalaman unik dan mengesankan terhampar dalam kegiatan ini. Ribuan bagian kegiatan yang diabadikan hanyalah sepotong dari ribuan keping kisah dan kasih yang terajut dalam kesempatan ini. Semoga berbagai narasi dan kesan yang timbul dapat diarahkan kepada sisi positif sebagai bahan refleksi dan pengingat diri bahwasanya Tuhan menciptakan manusia dengan kompleksitasnya dengan jalan dan nasibnya tersendiri dalam rangka peningkatan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*