Mengintip Dapur Media Online di Kumparan

Mentari nampak begitu ceria hari ini. Awan – awan nampak bergelayut manja mengiringi kehadirannya. Lembaran baru telah terbentang menunggu goresan – goresan berikutnya yang akan mengisi kealpaannya dalam nestapa. Lapangan upacara begitu sesak oleh para siswa yang telah kembali ke perantauannya lagi. Nada – nada optimisme dan semangat terpancar dari rona wajah setiap siswa di MAN Insan Cendekia Serpong.

Pagi itu diadakan apel pagi untuk melepas kepergian kawan – kawan ilmuwan muda yang akan bertarung dalam perhelatan Olimpiade Sains Provinsi (OSP) Banten 2018. Teruntai dan terpanjat ribuan doa yang mengiringi perjuangan dan kerja keras mereka dalam menebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi umat dalam dakwahnya di bidang kompetisi ilmu pengetahuan. Tercatat, terdapat 16 orang Kontingen MAN Insan Cendekia Serpong yang siap untuk berjuang meraih kemenangan gemilang pada ajang ini.

Apel pagi pun usai. Para siswa berhamburan memasuki ruang kelasnya masing – masing mengingat sekitar 3 menit ke depan bel penanda pelajaran pertama dimulai akan berdentum. Pada hari itu terdapat agenda lain sebenarnya yaitu Kunjungan Pendidikan Jurnalistik ke kantor media online kumparan.com yang bertempat dibilangan Warung Buncit Jakarta Selatan.

Kunjungan ini diagendakan berlangsung pada pukul 10 pagi hingga pukul 12 siang. Dalam kunjungan ini diagendakan beberapa kegiatan di dalamnya yaitu pemaparan mengenai dasar jurnalistik media, sesi sharing dan tanya jawab, dan melihat dari dekat kerja para pegiat media di balik dapur. Kumparan.com menerima para siswa MAN Insan Cendekia Serpong dengan hangat. Para siswa dipersilahkan untuk mendatangi Gaming Room yang merupakan tempat rehat sejenak dan pelepas penat dari segudang pekerjaan media massa dengan kontinuitas dan ritme kerja yang tinggi.

Rombongan siswa MAN Insan Cendekia Serpong didampingi oleh 2 orang guru pendamping yaitu M. Syahril, S.Pd selaku guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Tri Haryanto, S.Pd selaku guru pengampu mata pelajaran sosiologi sekaligus pegiat media publikasi MAN Insan Cendekia Serpong. Kumparan sendiri mengutus kepala bagian reporter yang akrab dipanggil Habibie untuk meladeni kunjungan kali ini.

Kumparan sendiri merupakan media massa yang berbasis online naik tayang pada Januari 2017. Kumparan yang merupakan akronim dari kumpulan pemikiran hadir membawa wajah baru dan segar bagi iklim media massa di Indonesia. Dengan mengusung narasi millenial, kumparan memadukan konsep portal berita dengan sosial media sehingga berita yang diperoleh di kumparan dapat berasal dari redaksi kumparan maupun user yang memiliki kesamaan fitur dengan sosial media. Hal ini diterapkan kumparan karena dalam pandangannya terdapat beberapa segmentasi berita yang tidak terjangkau oleh reporter kumparan yang hanya berjumlah 186 orang dan kebanyakan adalah fresh graduate sehingga diperlukan suatu wadah aspirasi untuk menampung segala keinginan masyarakat dalam menyorot pemberitaan mengenai sekitarnya yang luput dari reportase kumparan. Hal ini terdapat dalam fitur User Story sehingga segala jenis berita yang ada dalam portal ini berbentuk story yang terfilterisasi menjadi dua yaitu reportase redaksi dan reportase masyarakat yang berasal dari user maupun kontributor daerah yang dimiliki kumparan.

Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh para peserta karena pemaparan yang ciamik dari Kak Habibie ditambah lagi dengan narasi – narasi lugas yang terdapat dalam setiap tanggapan yang diberikannya terhadap semua pertanyaan yang diajukan. Dari sekian banyak hal menarik yang dipaparkan oleh Kak Habibie, penulis akan mengulas tiga hal mendasar yang dipaparkannya.

Pertama, jurnalis harus Ready On Call. Menjadi jurnalis bermakna menyadur cinta. Hal ini bermakna bahwasanya profesi wartawan bukanlah jalan yang tepat jika orientasi yang kita camkan adalah materi dan harta. Sebab, menjadi wartawan berarti menyadur cinta sehingga orientasi bekerjanya ialah kepuasan diri dan hati. Menurut keterangan Kak Habibie, penghasilan seorang jurnalis tidaklah dinilai berdasarkan produktivitasnya tetapi sesuai lama bekerjanya sehingga banyak atau tidaknya produktivitas berita yang dihasilkan tidak akan mempengaruhi penghasilan yang diterima tetapi akan bermanfaat bagi jam terbang seorang jurnalis dalam membuat berita dan keterampilannya dalam berbahasa.

Kedua, Objektifitas sudut pandang dalam penyajian berita. Dalam sistematika pemberitaan yang baik, jurnalis merupakan pemberi informasi, bukan influencer informasi sehingga apa yang dituliskannya sebagai jurnalis harus objektif sesuai pengamatan panca indera dan data akurat yang dimilikinya. Seorang jurnalis tidak diperkenankan memasukkan opini pribadinya dalam suatu tulisan sebab tugas memengaruhi suatu informasi terdapat pada seorang penulis. Penulis bebas mengekspresikan dirinya dalam tulisannya sesuai dengan opininya sedangkan jurnalis harus mampu membuang jauh segala bentuk pemikirannya untuk menjaga kemurnian, objektivitas, dan validitas berita.

Ketiga, Sistematika penayangan berita yang dimiliki kumparan. Sistem merupakan fondasi dasar pembentukan suatu instansi. Layaknya instansi lainnya, kumparan memiliki sistematika penayangan beritanya tersendiri. Menurut Standar Operasional Prosedural (SOP) Kumparan, penayangan suatu berita dilakukan 7 menit setelah reporter mengirimkan berita ke asisten redaktur. Beberapa bagian penyuntingan dapat dipotong untuk mempersingkat proses guna menyasar target 7 menit yang diberikan oleh dewan redaksi. Hal ini disebabkan oleh persaingan antar media online yang begitu ketat sehingga diperlukan akurasi waktu dan ketepatan berita untuk menjaga kredibelitas dan kepercayaan netizen. Faktanya, selama mengudara dalam 18 bulan ke belakang kumparan dapat bersaing dengan portal online lainnya. Tercatat, kumparan merupakan situs berita nomor 7 yang paling sering dikujungi oleh netizen dan peringkat 19 situs online yang paling sering dikunjungi di dunia maya.

Beragam kisah dan fakta menarik telah kami peroleh dalam kegiatan ini. Banyak sekali ilmu dan keterampilan jurnalistik baru yang kami serap pada kegiatan ini. Dengan segala narasi dan harapan baru yang terurai setelah kegiatan ini, ayo kita bangun jurnalis siswa yang independen dan berkarakter guna mengimplementasikan budaya literasi tanpa batas!

*Satrio Alif Febriyanto
Divisi Jurnalistik OS-Cendekia

1 Comment

  1. Menulis dan media tulisan merupakan salah satu sarana perjuangan. Lihatlah tulisan-tulisan Hamka yang mampu mencerahkan dan membangkitkan semangat para pembacanya. Latih terus kemampuan menulismu, Anak-anakku.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*