Tanda Tangan Foto Kunjungan Ke MAN IC Serpong Bukti Cinta Habibie-Ainun

Penutupan ajang Habibie Festival memberikan kesan unik bagi civitas MAN Insan Cendekia Serpong, Ahad 13 Agustus 2017 Eyang Habibie menutup Habibie Festival dengan pidato yang semangat diusia 81 tahun beliau memukau pengunjung yang hadir dengan seksama mendengarkan setiap kata-kata yang terucap. Beliau bercerita tentang keunggulan bangsa ini yang mampu membuat pesawat penumpang yang jauh lebih sulit dari pesawat tempur, “Tidak banyak negara yang sanggup membuat dan memproduksi(pesawat penumpang) tapi 22 tahun yang lalu (10 Agustus 1995) kita mampu membuat dan menerbangkan pesawat N250 karya anak bangsa”. Pidato kurang lebih 15 menit tersebut ditutup dengan optimismenya “bangsa ini akan semakin maju kalau kita bersatu dan saling mendukung” tutupnya.

Selesai pidato Eyang Habibie langsung turun panggung dan meninggalkan ruangan Hall B1 JIEXPO Kemayoran Jakarta, ditengah kerumunan pengunjung yang ingin berfoto dan mendekat, siswa MAN Insan Cendekia Serpong Khifni Ali mencoba mendekat sambil membawa foto kanvas Kunjungan Habibie-Ainun ke MAN Insan Cendekia Serpong 22 November 2005 sambil menyapa “Assalamu’alaikum Pak Habibie kapan ke IC (Insan Cendekia) lagi?” sambil menyodorkan foto dan spidol untuk meminta tanda tangan beliau. Saat itulah moment cinta Habibie ke Ibu Ainun benar adanya, beliau langsung menandatangani persis dibawah foto Ibu Ainun (almarhumah) sambil bilang “saya ingat tanggal lahir beliau” dan tertulis 11-08-2017. Rupanya hari itu baru 2 hari yang lalu hari ulang tahun Ibu Ainun, sudah 7 tahun (22 Mei 2010) berlalu beliau ditinggalkan Ibu Ainun tapi hari ulang tahunnya tidak dilupakan. Seperti banyak diungkap oleh media dan film tentang beliau yang menggambarkan cintanya yang begitu dalam kepada Ibu Ainun.

Bagi civitas MAN Insan Cendekia Serpong tanda tangan beliau di foto kanvas tersebut sangat bernilai harganya, karena itu bukti pengakuan, bukti penghargaan kepada civitas MAN Insan Cendekia. Insan Cendekia lahir dari pemikirin besar Prof.Dr.Eng B.J. Habibie yang ingin menyatukan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dengan Iman dan Taqwa (IMTAQ), beliau menginginkan berdirinya sebuah institusi pendidikan yang mampu membentuk manusia yang menguasai IPTEK dan IMTAQ secara seimbang. Pada masa itu (1990-an) masih kuat dikotomi sekolah umum dan sekolah agama (pesantren) maka Habibie sebagai tokoh Islam sekaligus cendekiawan muslim ingin menjembatani “jurang pemisah” antara agama dan ilmu pengetahuan umum. Istilah IPTEK dan IMTAQ adalah “ciptaan” Habibie yang akhirnya dikenal dan meluas sampai sekarang.

Pada saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BPPT menginisiasi program Science and Technology Equity Program (STEP). Tujuan STEP adalah penyetaraan program ilmu pengetahuan dan teknologi untuk sekolah di lingkungan pesantren. Pada tahun 1996, STEP melekatkan nama SMU Insan Cendekia sebagai nama lembaga pendidikan sebelumnya digunakan nama Magnet School selama beberapa bulan. Rancangan model pendidikan STEP mengambil filosofi magnet school dimana diharapkan lembaga pendidikan ini mampu menarik sekolah sekitarnya untuk terpicu dalam prestasi dan menyiapkan calon pemimpin masa depan bangsa. STEP memilih lokasi di Serpong (Banten) dan Gorontalo yang menjadi langkah awal pendirian sekolah berbasis IPTEK dan IMTAQ.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*