Tulisan Agil Wijaya “Chase That Setting Sun” Menginspirasi!

Tulisan Agil Wijaya yang berjudul “Chase That Setting Sun” yang dimuat di sharingbareng.com banyak dibagikan warganet khususnya civitas MAN Insan Cendekia. Tulisan ini bercerita perjalanan Agil Wijaya siswa peraih medali Perunggu bidang Biologi diajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2017.

Berikut ini tulisannya:

Masa lalu
Hidup saya di SMP seperti lazimnya bocah, masa-masa di mana saya kecanduan main game online, nonton anime, membaca manga dan hiburan yang sedemikian. Belajar bukanlah sebuah tujuan, prestasi apalagi.
Saya mengalami penurunan yang drastis dari SD ke SMP. Di SD, saya pernah mendapat medali OSN, sedangkan SMP, saya diikutkan kompetisi ini itu bahkan babak pertama saja tidak lolos. Saya dimarahi orangtua saya karena penurunan ini.

Saya toh bodo amat dengan penurunan ini. Saya menemukan dunia saya yang baru. Lingkungan pertemanan saya sering berkaitan dengan game. Membahas game yang akan rilis, bermain game bersama, bahkan saya sering begadang sampai jam setengah 3 pagi hanya untuk bermain game. Itu begadang ketika besoknya sekolah lho, bukan ketika liburan.
Lalu, pada kelas 9 SMP, saya berada pada titik jenuh. Ada rasa yang aneh. Saya tiba-tiba enggan memainkan game favorit saya. Saya mencoba rekomendasi game ini, game itu, dari teman-teman saya, tetapi bosan. Gameplaynya memang menarik, tetapi rasa sesal di sanubari yang membuat saya jenuh.

I have wasted too much time. Terlalu banyak membuang waktu. Saya merasa bersalah karena tidak menjadi anak yang tidak bisa dibanggakan oleh orangtua. Teman teman kontingen OSN SD saya bahkan tembus sampai menjadi delegasi IJSO (International Junior Science Olympiad), sebuah kompetisi Sains tingkat Internasional untuk bocah SMP, sedangkan saya terpekur disini, prestasi yang saya raih cuma ada 1, itupun tingkat kota.

Bangkit dari keterpurukan
Dengan kondisi terpuruk itulah, saya mencoba mendaftar ke sebuah sekolah berasrama nun jauh di Tangerang Selatan (rumah saya di Malang). MAN Insan Cendekia Serpong. Motivasi saya adalah untuk “mereparasi” diri saya dari kesalahan kesalahan masa lalu yang demikian. Saya ingin berprestasi. Saya tidak ingin mengecewakan orang tua saya. Motivasi yang simpel, tapi berat.

Pada masa orientasi, terdapat pengenalan ini dan itu. Akhirnya, yang saya tunggu tunggu tiba, yakni pengenalan Klub Bidang Studi, sebuah wadah siswa Insan Cendekia dalam pencarian siswa siswa yang berminat untuk mendalami pelajaran yang diinginkan. Juga sebagai seleksi murid Insan Cendekia untuk berlaga di OSN.

Dari 9 pelajaran (Matematika, Fisikia Kimia, Biologi, Kebumian, Geografi, Ekonomi, Astronomi, Informatika), saya mencoba mendaftar di 3 pelajaran. Semuanya berbasis hafalan. Yakni Kebumian, Geografi dan Biologi. Tak sekedar mendaftar, terdapat tes awal sebagai tiket awal untuk masuk. Saya mengikuti tes, dan saya lolos tiga tiganya, tetapi harus memilih salah satu.

Dilematis. Ketiganya merupakan sesuatu yang saya minati. Tapi saya mencoba melihat peluang. Di kebumian, saya melihat ada teman angkatan yang memilih kebumian, dia memiliki kakak kandung 2 tahun diatasnya yang mengikuti OSN Kebumian juga, dan kakaknya mengajari dia secara privat. Jadi, saya menganggap Kebumian chance-nya kecil. Akhirnya tinggal Geografi dan Biologi. Mempertimbangkan saya adalah anak IPA, saya memilih Biologi.

Olimpiade Sains SMA dibagi menjadi 3 Tahap. Yakni OSK (Kabupaten), OSP (Provinsi), dan OSN (Nasional). OSK pada tahun saya digelar pada akhir Februari, OSP Maret dan OSN Mei. Delegasi sekolah yang dikirim perbidang untuk OSK itu 3 orang. Lalu, dari OSK diambil 5 terbaik untuk mewakili kota ke tingkat Provinsi. Untuk Biologi (gatau pelajaran lain sistemnya sama atau nggak), perwakilan provinsi yang dipanggil untuk Nasional diambil dari rank 1 provinsi + siswa yang berhasil melewati passing grade nasional. Jadi, jumlah delegasi provinsi bisa bervariasi, bisa 1 atau lebih.

Maka Insan Cendekia mengagendakan Januari perwakilan sekolah untuk OSK sudah terpilih. Tiga perwakilan tiap bidang, umumnya 2 dari kelas 11, dan 1 dari kelas 10. Syukur, di bidang Biologi, teman-teman(baca:saingan) saya mulai dari nol semua. Tidak ada yang berlatar OSN SMP. Jadi kami berpacu dari garis start yang sama.

Saya benar benar memulai dari nol. Saya ingat langkah pertama yang saya lakukan adalah men-download soal OSK tahun 2012. Dari 100 soal, tak ada satupun soal yang bisa saya jawab. Kemudian saya pesimis.
Ini udah berapa bulan lagi OSK tapi materi satupun belum ada yang masuk.
Saya akhirnya membeli Campbell Biology atas saran kakak kelas. 10 Oktober 2015, starting point saya berkarir di Olimpiade ini.

Seleksi sekolah semakin dekat, tetapi sebuah kecelakaan membuat saya harus dirawat di Malang. Saya harus bolak-balik rumah sakit, menyita waktu belajar saya. Karena kecelakaan itu, saya tidak menghadiri sekitar 8 pembinaan reguler KBS yang dibina oleh guru. Saya sudah agak pesimis di sini mengingat saingan saingan saya yang ambisnya minta ampun. Saya menjalani tes jarak jauh. Entah apa hasilnya.
Sekitar 3 minggu kemudian hasil keluar. 4 orang dari KBS Bio. 2 Kelas 11 dan 2 Kelas 10. Salah satunya saya. Saya benar-benar tidak punya bayangan akan lolos. Berarti saya sudah tidak bisa berleha-leha lagi. Saya harus menamatkan Campbell secepatnya. Saya berpikir dari 4 ini akan diambil 3, 1 akan tersingkir. Dan saya takut itu saya.

OSK 2016
Entah, tiba-tiba sudah Februari saja. Perwakilan OSK sudah terbentuk. Alhamdulillah saya menjadi perwakilan untuk OSK, bersama dengan 2 kakak kelas.

OSK di Tangerang Selatan tergolong sangat berat. Kami sudah di wanti-wanti secara khusus oleh Kepala Sekolah persaingan disini sangat ketat. Saingan terberat kami di tingkat kota adalah Kharisma Bangsa dan SMAN 2 Tangsel. Saya mendengar bahwa rank 1 di beberapa kota besar belum tentu bisa masuk 5 besar Tangerang Selatan. Lawan-lawan saya adalah alumni OSN Tahun sebelumnya.

Saya melakukan kesalahan yang terhitung fatal. Saya menghabiskan 30 menit hanya untuk 2 soal dari 100 total butir (dari waktu 3 jam). Banyak dari 100 soal itu yang tidak terjawab. Saya tidak terlalu berharap dari apa yang saya lakukan.

Hasil diumumkan 3 minggu setelahnya. Saya menduduki peringkat 14. Tidak lolos. Saya ya pasrah, mau gimana lagi?

Keep Struggle
Saya paham. Mungkin itu bukan rezeki saya. Saya bertekad untuk menjemput rezeki saya di tahun yang akan datang. Saya langsung berusaha menamatkan Campbell, meluangkan 3-4 jam setiap hari untuk ‘mengaji’. Akhirnya, tanggal 4 Mei 2016 tamatlah buku itu dalam 6 bulan.

Berhenti di situ saja? Biologi adalah bidang yang materinya sangat banyak. Tidak ada bakat-bakatan di bidang ini (menurut saya). Tidak seperti matematika atau fisika yang mungkin terdapat bocah umur 8 tahun yang mampu menyelesaikan soal kuliah tingkat akhir. Biologi harus membaca, ditambah dengan analisis mengenai apa yang dibaca.
Saya merambah buku lain yang lebih advance dari Campbell. Saya merasa harus lebih mengebut daripada kemarin. Prinsip saya satu, seperti yang dikatakan oleh A. Fuadi, yakni bekerja diatas rata rata orang lain. Apalagi rekan satu bidang biologi saya dari awal di Insan Cendekia, termasuk orang orang terjenius yang pernah saya kenal. Dia selalu bisa mengerjakan genetika, salah satu sub-bidang biologi, jauh lebih jago daripada saya, analisis yang lebih tajam, selalu bisa mengingat soal yang pernah ia kerjakan, bahkan sering begadang lebih lama dari saya. Sesuatu yang membuat saya bersyukur karenanya. Dia adalah kompetitor saya, rekan belajar yang mendorong saya untuk berusaha lebih dalam mengarungi hidup per-olim-an ini.

Trade-off
Saya bukanlah anak yang terlalu pintar dalam bidang akademik. Saya anak IPA, tetapi saya entah kenapa lebih menyukai bidang IPS (this is just a cliche excuse, don’t listen to me). Pelajaran yang menjadi momok saya adalah Matematika Peminatan. Saya tidak pernah tuntas ketika ujian, bahkan saya pernah mendapat nilai 9 dari 100. Saya selalu menghadiri perbaikan nilai di akhir semester, dalam tingkatan yang paling kaffah (baca:paling tinggi) saking rusaknya nilai saya.

Itu ketika saya masih kelas 10 lho, ketika saya belum terlalu berkarir di olimpiade.
Ini yang menjadi batu penghambat saya. Jika saya terlalu fokus di olimpiade maka saya akan tamat di Insan Cendekia. Insan Cendekia tidak menolerir tidak naik kelas. Tidak naik kelas akan dikeluarkan. Ini yang menjadi mimpi buruk saya. Dikeluarkan sekolah karena terlalu mengejar olimpiade. Saya harus berbenah dari sini.
Saya harus mengejar kedua duanya. Saya tidak bisa lagi menghabiskan 24 jam saya hanya untuk membaca biologi seperti sebelumnya. Saya mengagendakan dari pagi sampai jam 12 malam adalah waktu untuk akademik saya, lalu dari jam 12 malam hingga sekuatnya untuk belajar olimpiade. Saya lebih memilih untuk tidur malam 1-2 jam setiap hari daripada saya kehilangan dua-duanya. Saya sudah jarang sekali membuka laptop hanya untuk sekedar membuka sosmed. Berat memang, tetapi menurut saya ini harus ditempuh untuk mencapai goal saya dan menjaga eksistensi saya di Insan Cendekia.

Dari ritme hidup yang saya jalani itulah, saya mengalami perubahan. Dalam ulangan Matematika Peminatan, saya mendapat nilai tuntas pertama seumur hidup saya. 90 lagi. Nilai saya berada diatas beberapa anak anak yang saya anggap pandai dalam matematika. I think I’m on the right track now.

OSK 2017
Everybody deserves a second chance, but not for same mistake

Setahun dari pengalaman pahit saya, saya sudah siap menghadapi OSK. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan fatal yang saya lakukan. Ketika sudah waktu pengerjaan, saya sudah menerapkan strategi yang sudah saya susun jauh-jauh hari. Saya sudah tinggal berdoa. Saya sudah mengerahkan segala kemampuan yang saya miliki.
Pengumuman 3 minggu kemudian. Insan Cendekia agak ‘dibabat’ disini. Dari mengirimkan 27 delegasi, 8 yang lolos. Bandingkan dengan SMAN 2 Tangsel yang berhasil mengirimkan sekitar 12 siswa dan Kharisma Bangsa yang mengirimkan sekitar 17 delegasi. Saya menangkap nada kekecewaan guru dari obrolan saya dengan guru-guru. Sebuah penurunan di tahun ini untuk sekolah kami.

Meluruskan niat
Tiba-tiba, setelah OSK, niat belajar saya hilang. Ini akibatnya jika saya terlalu berekspektasi terhadap OSK. Saya menjadikan OSK sebagai tujuan, bukan jalan. Memang jadinya saya termotivasi lebih tinggi untuk mencapainya, tetapi ketika sudah tercapai ya selesai. Tidak ada niat untuk melanjutkan.

Teman sebidang saya sempat bertanya kepada saya yang kira-kira begini.
“Kenapa kita berjuang di OSN? Apa tujuannya?”
Pertanyaan simpel itu menggugah hati saya. “Apa yang saya perjuangkan?”

Apakah tujuan saya berolimpiade semulia motto Insan Cendekia “Belajar untuk ibadah, prestasi untuk dakwah”? Apakah saya tujuan saya untuk meningkatkan nilai jual madrasah yang dianggap sebelah mata oleh orang orang? Untuk menjadi delegasi Indonesia di tingkat Internasional? Untuk menunjang kehidupan saya ketika kuliah? Untuk menjadi calon calon ilmuwan Indonesia kelak?

Setelah berkontemplasi sekian lama saya akhirnya “menemukan” kembali niat saya. Niat saya tidak sebombastis seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Niat saya hanyalah ingin berubah dari masa lalu. Sesimpel itu.
Saya menemukan gairah untuk belajar lagi.

Last Stage
Alhamdulillah saya berhasil lolos ke tingkat nasional. Insan Cendekia yang terbabat di OSK, dari mengirim 8 delegasi untuk OSP, semuanya lolos ke OSN, pertama kali dalam sejarah Insan Cendekia.

Merupakan ketakukan terbesar saya jika tidak lolos. Saya sudah meninggalkan kelas berminggu-minggu khusus untuk ini. Jika saya tidak lolos merupakan beban moril tersendiri bagi saya terhadap kepala madrasah yang telah memberikan waktu khusus untuk hanya belajar Olimpiade.
OSN yang saya hadapi cukup berat. Tanggal 22 Mei, hasil pengumuman OSN sudah keluar. Tanggal 27 Mei adalah 1 Ramadan, di mana umat Islam menjalani puasa. Saya mempersiapkan OSN sambil berpuasa.
Tanggal 2 Juli, 7 hari setelah lebaran, masih masa masa liburan sekolah, saya dan 44 Delegasi Banten berangkat ke Pekanbaru, tuan rumah OSN 2017.

Ini adalah OSN terakhir saya. Sudah tidak ada lagi kesempatan.
OSN secara umum dibagi menjadi 2, teori dan praktik.
Di teori akan dituntut untuk tangguh. Total 100 soal dalam waktu 6 jam yang akan dibagi menjadi 2 tahap. Lembar soal biologi adalah yang tertebal dibanding pelajaran yang lain. 1 soal pun bisa menghabiskan 3 halaman. Praktikum adalah melakukan eksperimen dengan 4 tema utama yang sudah ditentukan.

Nilai antar teori biasanya antar anak tidak terpaut jauh. Yang drastis adalah Praktikum. A bisa mendapatkan nilai 70 di suatu tema, sedangkan B bisa jadi hanya mendapat 14. Jadi saya berusaha memaksimalkan praktikum.
Saya sudah mengerahkan upaya saya, tinggal berdoa berharap langit akan mengabulkan.

Arti sekeping medali
Penutupan event.
Semua cemas, menanti pengumuman. Entah kenapa saya selalu berada pada titik nadir. Di kompetisi apapun itu. Terlalu berekspektasi itu berbahaya. Saya mereduksi ekspektasi itu sekecil kecilnya, karena jatuh itu menyakitkan.
Maklumat keping-keping medali dimulai dari yang paling dasar. Perunggu SD. menanjak SMP. Akhirnya SMA. MC yang mengumumkan terlalu cepat dalam pengucapan, membuat hati saya dingin.

Agil Wijaya bersama rekan dan guru pendamping

Biologi akhirnya disebut. Saya meraih perunggu ke dua. Saya mungkin terlihat biasa saja ketika maju kedalam panggung. Tetapi dalam hati, saya menangis.

Medali itu hanyalah sekeping logam. Yang kelak teronggok bisu dalam lemari kaca madrasah saya. Tetapi nilai yang terkandung dalam medali itu tidak ternilai bagi saya, nilai tentang perjuangan, harapan, dan penantian, dan yang paling penting, saya berhasil membuktikan kepada orangtua saya bahwa saya adalah anak yang mampu berprestasi, setelah berkali kali mengubur harapan orangtua akan saya ketika saya terjebak dalam masa lalu yang mengecewakan.

Support
Ketika SMA, saya baru menghayati dengan sepenuh-penuhnya penghayatan akan sebuah ucapan “Kamu tidak bisa hidup tanpa orang lain”.

Saya bersyukur memiliki keluarga, terutama orang tua yang selalu mendukung mengingatkan dan mendoakan.
Saya memiliki guru-guru yang hebat. Guru yang mengarahkan minat bakat saya, guru yang memahami kesulitan kesulitan yang kami hadapi, mengurusi tetek bengek kebutuhan ICOT (Insan Cendekia Olympiad Team), seperti konsumsi malam hari, mengakomodasi kami dalam pelatihan ini itu. Dan guru matematika yang terus mengingatkan saya akan matematika tentunya hehe.

Saya memiliki teman-teman yang hebat disekitar saya. Mulai teman membolos salat berjamaah di masjid, teman-teman yang bisa diajak berdebat apakah bumi itu datar atau bulat, hingga teman yang menjadi tempat curhat saya akan kegagalan dan masalah hidup saya.

Saya tidak sendirian. Banyak pihak yang memberi support secara moril. Yang merangkul saya ketika berada pada titik terendah dan tertawa bersama.

Support juga berasal oleh kakak kelas saya yang sama sama di bidang biologi. Ketika dia kelas 12 yang seharusnya sudah fokus ujian segala macam masih saja meluangkan waktunya untuk memberi materi, menyimulasikan OSK & OSP, bahkan hingga menyimulasikan praktikum OSN. Sesuatu yang hingga saya dan rekan saya membatin “Ini kakak kok niat banget. Aku mungkin di tahun depan belum tentu bisa begini ke adik kelas lho”.

Experience
Ayah saya sudah berpesan sebelum pengumuman OSP, “Tidak apa apa jika tidak lolos, Agil kan dapat pengalaman, dan ilmu juga.”

2 tahun saya terangkai dalam mosaik pengalaman yang penuh debar. Detail-detail mengesankan yang tak terlupa.
Orang mungkin memiliki pengalaman mengesankan yang berbeda beda. Jika orang menjawab apa yang menjadi life changing experience saya, maka saya mantap menjawab, yaitu OSN 2017.

Sumber: Sharingbareng.com

1 Comment

  1. Bagus sekali ceritanya.
    Terimakasih karena sudah mau bercerita.

    Cerita jujur, biasanya meng inspirasi.
    Terimakasih Agil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*